Sherpa


       Para pemimpin negara anggota G20 berkomitmen untuk meningkatkan kerja sama yang relevan dan berimbang, dengan terus memperhatikan isu-isu global yang berpengaruh pada perekonomian dunia baik terkait isu keuangan (finance track) maupun isu non-keuangan (non-finance track).

          Isu keuangan dibahas oleh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral, sedangkan isu non-keuangan dibahas oleh Sherpa, seorang wakil yang ditunjuk Presiden untuk menanganinya.  Isu-isu non-keuangan yang dibahas oleh Sherpa antara lain terkait pembangunan, ketenagakerjaan, energi, anti-korupsi, perdagangan dan investasi, kesehatan, perubahan iklim, anti-terorisme, dan pengungsi.

    Dalam pelaksanaannya, pertemuan Sherpa dilakukan beberapa kali sebelum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) berlangsung. Para Sherpa akan melakukan perencanaan, pembahasan, dan negosiasi terkait dengan isu-isu prioritas, untuk kemudian diformulasikan menjadi rekomendasi komunike bagi para pemimpin negara.

       Sebelum dilaksanakannya KTT G20, Presidensi Argentina akan mengadakan 60 pertemuan WG, 11 pertemuan jalur keuangan, 41 pertemuan jalur Sherpa; dan 7 pertemuan engagement groups. Presidensi Argentina ini mengangkat tema “Building Consensus for Fair and Sustainable Development. Beberapa isu yang menjadi prioritas utama G20 Argentina diantaranya yaitu Future of Work, Infrastructure For Development, dan Food Production in Global Value Chain. Kemudian Pertemuan Sherpa G20 ke-1 ini terbagi menjadi 6 (enam) Sesi, yaitu:

Sesi 1: World Economy and Overview of Finance Track

Prioritas Presidensi pada finance track mencakup future of work dan infrastructure for development.

Pada sesi ini, terdapat beberapa usulan pembahasan yang mengemuka, diantaranya: reformasi struktural dan keuangan, pendanaan terorisme, green finance, disaster resilience infrastructure, serta outreach kepada organisasi internasional  untuk kerjasama infrastruktur. Khusus terkait disaster resilience infrastructure, India mengusulkan pembentukan working group baru dan menyatakan kesanggupannya untuk memimpin.

Dalam intervensinya, Delri menyampaikan:

  • perlunya G20 untuk berupaya mencari policy approach dalam memitigasi dampak perkembangan teknologi, terutama terhadap dunia kerja; dan
  • rencana Pemri mengadakan Indonesia-Africa Forum (IAF) pada tahun 2018, sebagai upaya nyata dukungan Indonesia terhadap pembangunan di kawasan Afrika.

Sesi 2: Employment, Education and Digital Economy

Prioritas agenda ketenagakerjaan antara lain: peningkatan keterampilan dan lifelong learning, formalisasi tenaga kerja dan pekerjaan yang layak, dan penguatan jaminan social, termasuk di sektor non-standards form of employment.

Fokus utama agenda pendidikan diantaranya: menyesuaikan kurikulum pendidikan agar mencakup keterampilan mengajar dan belajar yang sesuai dengan kebutuhan masa depan, dan mekanisme pendanaan untuk pendidikan. Sementara itu, agenda ekonomi digital akan difokuskan pada 5 (lima) isu utama: digital government, digital infrastructure for development, industry 4.0, entrepreneurs & SMEs serta skills for the future.

Mayoritas anggota G20 mengangkat pentingnya jaminan sosial ketenagakerjaan yang lebih fleksibel dan inklusif; peningkatan kemampuan digital khususnya bagi perempuan dan vulnerable groups, dan pendekatan konteks lokal dalam merancang rekomendasi.

Delri menyampaikan intervensi terkait:

  • pentingnya memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk pemerataan ekonomi dan peningkatan pendapatan masyarakat; dan
  • perlunya pendidikan dan pelatihan vokasi sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan digital masyarakat.

Sesi 3: Energy and Climate Change

Agenda energi:

  • Diskusi meliputi usulan penggunaan trade measures sebagai salah satu instrumen mitigasi, serta mengkaitkan isu perubahan iklim dengan infrastruktur.
  • Mayoritas anggota G20 sepakat agar G20 mendukung secara bulat implementasi dari Paris Agreement serta mengupayakan dukungan finansial bagi pelaksanaan NDCs.
  • Terdapat usulan pembentukan disaster resilience infrastructure working group oleh India, serta usulan AS agar pembahasan climate finance tidak bertentangan dengan fossil fuel.

Intervensi Delri menggaris-bawahi:

  • dukungan terhadap One Planet Summit yang telah diselenggarakan di Paris, tanggal 12 Desember 2017 sebagai wujud komitmen politis terkait realisasi dari climate finance; dan
  • undangan terhadap anggota G20 untuk menghadiri Our Ocean Conference yang akan diselenggarakan oleh Pemri tanggal 29-30 Oktober 2018 di Bali. 

Agenda perubahan iklim:

  • Akan difokuskan pada upaya transisi energi kepada energi yang lebih bersih dan sistem energi internasional yang fleksibel dan transparan, khususnya terkait transparansi data dan market digitalisation, serta upaya untuk mengurangi subsidi bahan bakar fosil.
  • Diskusi menekankan pada pentingnya sharing of best practices dan kerjasama proyek pembangunan teknologi energi bersih dengan organisasi internasional, koordinasi erat antara Energy Transition WG dan Climate WG dalam menyusun progress report on Hamburg  Climate and Energy Action Plan, serta fossil fuel subsidy peer review (FFSR) yang perlu dipertahankan dan bersifat sukarela.
  • Delri menyampaikan bahwa Pemri telah melaksanakan joint-in-person meeting untuk FSSR dengan Italia di Jakarta, 4-6 Desember 2017 sebagai wujud komitmen Pemri untuk transisi menuju energi bersih.

Sesi 4: Agriculture, Trade and Investment

  • Fokus pembahasan agenda pertanian antara lain sustainable agriculture – terutama terkait pengelolaan lahan untuk pertanian – serta pendidikan mengenai hal tersebut bagi masyarakat (termasuk petani), dan pemanfaatan teknologi untuk pertanian.
  • Mayoritas negara G20 mengusulkan agar dibahas juga isu food loss and waste, progress atas action plan on food and water security, serta penguatan agricultural market information system (AMIS).
  • Pada agenda trade and investment, Presidensi mengangkat aspek pemanfaatan sistem teknologi untuk penyertaan hasil dan produk pertanian ke dalam global value chains (GVCs). Selain itu, mayoritas anggota G20 juga menyesalkan kegagalan MC-IX WTO dalam mencapai konsensus terhadap isu-isu yang menjadi pokok bahasan perdagangan internasional, seperti fisheries subsidy dan Doha Development Agenda.

Intervensi Delri menggaris-bawahi:

  • pentingnya partisipasi UMKM pada GVCs melalui mekanisme bantuan pendanaan – seperti aid for trade; dan
  • dukungan terhadap komitmen penguatan WTO sebagai tulang punggung sistem perdagangan multilateral.

Sesi 5: Development

  • Tiga prioritas dibawah agenda ini: early childhood investment, inclusive business  dan sustainable habitat.
  • Terdapat usulan Turki yang didukung pula oleh UE mengenai penanganan anak-anak pengungsi menyangkut prioritas early childhood investment. Selain itu, AS meminta negara berkembang untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi masuknya investasi untuk sektor infrastruktur yang dapat berdampak pada pembangunan. Negara anggota G20 juga memandang penting komitmen terhadap implementasi SDGs.

Delri menyampaikan bahwa:

  • Indonesia merupakan pelopor dalam pembentukan pusat pendidikan anak usia dini di ASEAN, dan karenanya mendukung prioritas early childhood investment di G20; dan
  • perlunya melibatkan B20 sebagai pelaku usaha dalam memberikan rekomendasi terkait inclusive business

Sesi 6: Anti Corruption, Health

  • Dua prioritas utama agenda anti-korupsi: meningkatkan integritas State Owned Enterprises (SOEs), dan pencegahan serta pengelolaan konflik kepentingan.
  • Negara anggota G20 mengemukakan bahwa isu integritas perlu dibahas secara luas, termasuk pada semua entitas bisnis. Usulan lain yang mengemuka antara lain pentingnya penekanan pada public procurement dalam isu transparansi data, mendorong keterlibatan  khususnya B20 dan C20 dalam pembahasan di tingkat ACWG, dorongan untuk ratifikasi konvensi anti-suap OECD, serta usulan proposal anti korupsi sektor olahraga oleh Jerman.
  • Sementara itu, agenda kesehatan akan difokuskan pada  tiga isu, yaitu: penguatan sistem kesehatan khususnya melalui universal health care (UHC),  anti microbial resistance (AMR), serta malnutrisi dan obesitas pada anak. AS secara khusus juga menyampaikan reservasi terhadap pembahasan isu kesehatan secara rutin dalam G20.

            Sherpa G20 Indonesia saat ini adalah Dr. Rizal Affandi Lukman yang juga menjabat sebagai Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi Internasional, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.